Musi Banyuasin: Profil Lengkap Kabupaten Muba di Sumatera Selatan

musi banyuasin

TL;DR

Musi Banyuasin (Muba) adalah kabupaten seluas 14.265 km persegi di Sumatera Selatan dengan ibu kota Sekayu. Ekonominya bertumpu pada migas, kelapa sawit, dan karet. Kabupaten ini punya 15 kecamatan, lebih dari 700 ribu penduduk, dan baru berhasil menurunkan angka kemiskinan ke satu digit pada 2025. Budaya khasnya meliputi Kain Gambo Muba dan tradisi Sedekah Sungai.

Kabupaten Musi Banyuasin terletak di bagian barat laut Provinsi Sumatera Selatan dan dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak bumi terbesar di provinsi itu. Namanya berasal dari dua sungai utama yang melintasi wilayahnya: Sungai Musi, sungai terbesar di Sumatera Selatan, dan Sungai Banyuasin. Dua sungai ini bukan sekadar nama. Sejak masa Kerajaan Sriwijaya, keduanya menjadi jalur perdagangan yang menghubungkan pedalaman dengan pesisir.

Muba, begitu kabupaten ini biasa disebut, punya luas wilayah sekitar 14.265,96 km persegi dengan 15 kecamatan, 229 desa, dan 13 kelurahan. Ibu kotanya adalah Sekayu, yang berjarak sekitar empat jam perjalanan darat dari Palembang. Penduduknya berjumlah 707.290 jiwa pada akhir 2023, dan mayoritas beretnis Melayu Musi dengan bahasa Musi sebagai bahasa sehari-hari.

Sejarah Terbentuknya Kabupaten Musi Banyuasin

Wilayah yang sekarang dikenal sebagai Musi Banyuasin dulunya terdiri dari dua kewedanaan di bawah Keresidenan Palembang: Kewedanaan Musi Ilir (berpusat di Sekayu) dan Kewedanaan Banyuasin (berpusat di Talang Betutu). Setelah kemerdekaan, kedua kewedanaan ini digabung menjadi satu kabupaten.

Secara resmi, Kabupaten Musi Banyuasin terbentuk pada 28 September 1956 berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1956, kemudian diperkuat dengan UU Nomor 28 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat II di Sumatera Selatan. Bupati pertamanya adalah Zainal Abidin Nuh.

Perubahan besar terjadi pada tahun 2002, ketika Kabupaten Banyuasin resmi dimekarkan dari Musi Banyuasin berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 2002. Pemekaran ini memisahkan wilayah eks-Kewedanaan Banyuasin menjadi kabupaten tersendiri dengan ibu kota Pangkalan Balai. Setelah pemekaran, wilayah Muba menyusut, tetapi tetap menjadi salah satu kabupaten terluas di Sumatera Selatan.

Ekonomi Muba: Migas, Sawit, dan Karet

Perekonomian Musi Banyuasin bertumpu pada sumber daya alam. Tiga sektor utamanya adalah pertambangan migas, perkebunan kelapa sawit, dan perkebunan karet.

Sektor migas sudah menjadi tulang punggung ekonomi Muba sejak era kolonial Belanda, ketika eksplorasi minyak bumi dimulai di awal abad ke-20. Sampai sekarang, beberapa blok migas aktif beroperasi di wilayah kabupaten ini, termasuk Blok Saka Kemang yang terus dikembangkan. Muba juga punya cadangan batu bara yang cukup besar di beberapa kecamatan.

Di sektor perkebunan, kelapa sawit mendominasi. Luas perkebunan sawit di Muba mencapai sekitar 443 ribu hektare, dan sekitar 40 persennya adalah milik petani swadaya. Kabupaten ini bahkan pernah menargetkan diri sebagai pusat energi baru terbarukan (EBT) berbasis sawit pada 2030, dengan rencana pembangunan pabrik biofuel yang mengolah tandan buah segar (TBS) menjadi bahan bakar nabati.

Karet juga masih menjadi komoditas penting, meskipun harganya sempat anjlok beberapa tahun terakhir. Pemkab Muba merespons ini dengan membangun pabrik aspal karet pertama di Indonesia, yang sudah beroperasi sejak 2020 dan digunakan untuk pembangunan jalan di kabupaten tersebut.

Penurunan Kemiskinan ke Satu Digit

Meskipun kaya SDA, angka kemiskinan di Muba sempat menjadi sorotan. Selama lebih dari 20 tahun, persentase penduduk miskin di kabupaten ini bertahan di angka dua digit, bahkan pernah menjadi salah satu yang tertinggi di Sumatera Selatan.

Perubahan terjadi pada 2025. Menurut data BPS, persentase penduduk miskin turun dari 12,88 persen menjadi 9,97 persen, dengan penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 19.333 jiwa. Angka ini menjadikan penurunan kemiskinan Muba yang terbesar kedua di Pulau Sumatera. Beberapa program yang berkontribusi antara lain Bantu Umak (bantuan tunai), Bakul Nasi (bantuan permakanan penduduk rentan), dan operasi pasar untuk menstabilkan harga bahan pokok.

Wilayah Administratif dan Kecamatan

Musi Banyuasin terdiri dari 15 kecamatan yang tersebar dari dataran rendah rawa hingga perbukitan. Berikut daftar lengkapnya:

  1. Sekayu (ibu kota kabupaten)
  2. Babat Supat
  3. Babat Toman
  4. Batang Hari Leko
  5. Bayung Lencir
  6. Jirak Jaya
  7. Keluang
  8. Lais
  9. Lalan
  10. Lawang Wetan
  11. Plakat Tinggi
  12. Sanga Desa
  13. Sungai Keruh
  14. Sungai Lilin
  15. Tungkal Jaya

Sebagian besar wilayah Muba berupa dataran rendah dan rawa-rawa, dengan banyak sungai yang menjadi jalur transportasi utama bagi masyarakat pedalaman. Semakin ke arah barat, kondisi tanahnya semakin berbukit. Karakteristik ini membuat pola pertanian di tiap kecamatan cukup berbeda: daerah dataran rendah lebih cocok untuk sawah tadah hujan dan perikanan, sementara daerah yang lebih tinggi didominasi perkebunan sawit dan karet.

Budaya dan Tradisi Khas Muba

Masyarakat Musi Banyuasin mayoritas beretnis Melayu Musi dan beragama Islam. Motto kabupaten ini, Serasan Sekate, berarti kerukunan dan musyawarah untuk mufakat, yang mencerminkan nilai gotong royong masyarakatnya.

Kain Gambo Muba

Produk budaya Muba yang paling dikenal secara nasional adalah Kain Gambo. Kain ini dibuat dengan teknik jumputan (ikat celup) menggunakan pewarna alami dari limbah getah tanaman gambir, sehingga termasuk produk eco-fashion. Proses pewarnaannya tidak menggunakan bahan kimia, dan air limbah produksinya bisa dipakai untuk menyiram tanaman gambir kembali.

Popularitas Kain Gambo meningkat setelah dikenakan oleh beberapa tokoh nasional, dan sempat ditampilkan di Jakarta Fashion Week 2020 serta Indonesia Fashion Week 2021. Saat ini, Kain Gambo juga menjadi seragam resmi ASN di lingkungan Pemkab Muba.

Sedekah Sungai dan Tradisi Lainnya

Tradisi Sedekah Sungai adalah ritual syukuran masyarakat pesisir sungai yang masih dijalankan di beberapa desa. Selain itu, ada juga tradisi Besesanding (upacara pernikahan adat), serta kesenian seperti Tari Piring Sekapur Sirih, Kuda Lumping Muba, dan Hadroh. Di Kecamatan Sungai Keruh, tradisi Melemang (membuat lemang saat 10 Muharam) masih bertahan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Melayu setempat.

Destinasi Wisata di Musi Banyuasin

Muba bukan destinasi wisata utama di Sumatera Selatan, tetapi punya beberapa tempat menarik yang layak dikunjungi, terutama di sekitar Kota Sekayu.

Danau Ulak Lia terletak di Kelurahan Soak Baru, Kecamatan Sekayu. Danau alami ini dikelilingi tumbuhan hijau dan menjadi tempat favorit warga lokal untuk rekreasi keluarga. Tidak ada tiket masuk, cukup membayar parkir saja.

Danau Biru berada di jalur Sekayu-Pali. Danau ini terbentuk dari bekas galian tambang yang kini berubah menjadi kawasan wisata dengan air berwarna hijau kebiruan. Tiket masuknya hanya Rp5 ribu.

Taman Kampung Selarai Indah adalah wisata alam buatan di Kelurahan Balai Agung. Kawasannya dikelilingi hutan dan danau, dilengkapi wahana permainan anak dan sarana wisata air. Jaraknya sekitar 15 menit dari pusat Kota Sekayu.

Sekayu Waterfront terletak di pinggir Sungai Musi dan menjadi tempat nongkrong favorit warga saat sore hari. Pemandangannya paling bagus menjelang matahari terbenam.

Untuk wisata alam yang lebih jauh, ada Danau Rombak di Kecamatan Bayung Lencir dan Bukit Pandang di Kecamatan Sungai Keruh yang menawarkan pemandangan sungai, hutan, dan perkampungan dari ketinggian.

Pemerintahan dan Kepemimpinan Saat Ini

Musi Banyuasin saat ini dipimpin oleh Bupati M. Toha Tohet dan Wakil Bupati Rohman, yang dilantik pada 20 Februari 2025 langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Dalam satu tahun pertama kepemimpinannya, fokus utama Pemkab Muba adalah penurunan kemiskinan, pemanfaatan aset daerah yang selama ini tidak produktif, dan penggunaan lahan kosong untuk pertanian.

Salah satu program yang menonjol adalah penanaman kelapa sawit di lahan aset pemkab yang tidak terpakai, serta program Bantu Umak yang mewajibkan penerima bantuan menanam sayuran di pekarangan rumah. Langkah-langkah ini menunjukkan arah kebijakan yang lebih fokus pada kemandirian pangan dan ekonomi kerakyatan.

Muba dan Perbedaannya dengan Kabupaten Banyuasin

Satu hal yang sering membingungkan adalah perbedaan antara Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Banyuasin. Keduanya memang berasal dari satu kabupaten yang sama sebelum pemekaran 2002. Setelah berpisah, Kabupaten Banyuasin beribu kota di Pangkalan Balai dan wilayahnya mengelilingi sekitar dua pertiga Kota Palembang, sehingga berfungsi sebagai wilayah penyangga ibu kota provinsi. Sementara Muba, dengan ibu kota Sekayu, lebih berfokus pada sektor migas dan perkebunan.

Jika Anda mencari informasi tentang Taman Nasional Sembilang atau daerah pesisir, itu masuk wilayah Kabupaten Banyuasin, bukan Muba. Kesalahan ini cukup sering terjadi di berbagai artikel.

Musi Banyuasin adalah kabupaten yang identitasnya kuat terikat pada sumber daya alamnya, dari minyak bumi hingga sawit dan karet. Tapi di balik kekayaan SDA itu, ada warisan budaya Melayu Musi yang terus dijaga, mulai dari Kain Gambo yang sudah tampil di panggung fashion nasional hingga tradisi Sedekah Sungai yang masih hidup di desa-desa. Bagi siapa pun yang ingin mengenal Sumatera Selatan lebih dalam, Muba adalah titik awal yang tepat.

Scroll to Top